2. PENDEKATAN PENGELUARAN
PDB adalah seluruh komponen permintaan akhir, meliputi (i)pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba; (ii) pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok; (iii) pengeluaran konsumsi pemerintah; serta (iv) ekspor neto (ekspor minus impor), dalam waktu satu tahun.
- PDB menurut penggunaan (end-use approach)
GDP = C + I + G + (EX-IM)
3.PENDEKATAN PENDAPATAN
PDB adalah balas jasa (upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan) yang diterima oleh faktor produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu satu tahun
- PDB menurut biaya faktor produksi
B. Pertumbuhan dan Perubahan Struktur Ekonomi.
Di dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dinyatakan secara ekspilist bahwa pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Walaupun bukan suatu indikator yang bagus, tingkat kesejahteraan masyarsakat dilihat dari aspek ekonominya, dapat diukur dengan penadapatan nasional (PN) perkapita. Untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan pertumbuhan PDB dan menjadi salah satu target penting yang harus dicapai dalam pembangunan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi merupakan penambahan GDP, sehingga terjadi peningkatan national income.
National income dapat merujuk pada GDP, GNP atau NNP (Net national Product)
GNP = GDP + F, dimana F = pendapatan neto atas faktor luar negeri
NNP = GNP – D, dimana D = depresiasi
NP = NNP – Ttl, dimana Ttl = pajak tidak langsung neto.
GDP = NP + Ttl + D – F
NP = GDP + F – D- Ttl
Pendekatan pengukuran GDP:
a) Pendekatan sisi penawaran agregat yang mencakup:
• Pendekatan produksi. PDB=jumlah nilai output (NO) dari semua sector ekonomi atau lapangan usaha
BPS membagi ekonomi nasional dalam sektor:
a) Pertanian
b) Pertambangan dan penggalian
c) Industri manufaktur
d) Listrik, gas, dan air bersih
e) Bangunan
f) Perdagangan, hotel dan restoran
g) Pengangkutan dan komunikasi
h) Keuangan, sewa dan jasa perusahaan
i) Jasa-jasa
• Pendekatan pendapatan. PDB=jumlah pendapatan yang diterima FP untuk proses produksi disetiap sector yg mencakup gaji untuk TK, bunga untuk pemilik modal, sewa untuk pemiik tanah, profit untuk pengusaha sebelum dipotong pajak dan mencakup penyusutan.
PDB = NTB1 + NTB2 + … + NTB9, dimana NTB= nilai tambah bruto 9 sektor
b) Pendekatan sisi permintaan agregat yakni pendekatan pengeluaran
PDB=C + I + G + X - M
- Teori dan Model Pertumbuhan.
a) Teori dan model pertumbuhan Neoklasik.
Memfokuskan pada efek akumulasi K dan penambahan TK.
Semakin meningkat jumlah FP (TK dan kapital) pada tingkat produktivitas tidak berubah, maka semakin meningkat pertumbuhan output. Persentase pertumbuhan output dapat:
• Lebih besar daripada persentase pertumbuhan jumlah FP (increasing return to scale)
• Sama dengan persentase pertumbuhan jumlah FP (constant return to scale)
• Lebih kecil dari persentase pertumbuhan jumlah FP (decreasing return to scale)
Asumsi: teknologi, ilmu pengetahuan, dan peningkatan kualitas input tidak diperhatikan (dianggap konstan)
Teori ini tidak berlaku untuk Jepang, Korea Selatan dan lain-lain yang memiliki SDA sedikit dapat menunjukkan laju pertumbuhan yang tinggi. Pertumbuhan output mereka sebagai akibat dari produktivitas yang semakin meningkat.
Nafziger (1997) menyatakan bahwa Taiwan, Hongkong, Korea Selatan dan Singapura menunjukkan K per TK terhadap pertumbuhan eonomi mencapai 50% - 90% dan peran teknologi sebesar 10% - 50%.
b) Teori modern (model pertumbuhan Endogen)
Teori moderan menyatakan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi:
• FP yang mencakup TK, K, T, kewirausahaan, BB dan material,
• Faktor lain yang mencakup infrastruktur, hukum dan peraturan, stabilitas politik, kebijakan pemerintah, birokrasi, dan dasar tukar internasional.
C. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selama Orde Baru Hingga Saat Ini
1. Kondisi Ekonomi Indonesia pada Masa Orde baru (1966-1998)
Pemerintahan Orde Baru menyadari sepenuhnya bahwa akibat konflik yang berkepanjangan penderitaan rakyat telah mencapai titik yang tertinggi. Kesejahteraan rakyat telah menjadi korban dan ambisi para petualan politik. Atas dasar kesadran tersebut, maka pada awal Orde Baru Stabilisasi Ekonomi menjadi proritas utama.
a. Stabilisasi Ekonomi
Pada permulaan Orde Baru, program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha pengendalian tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pelaksanaan pembangunan Orde Baru bertumpu kepada program yang dikenal dengan sebutan “ Trilogi Pembangunan” yaitu sebagai berikut :
a) Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menju kepada terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
b) Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
c) Stabilitas yang sehat dan dinamis.
Pelaksanaan Pola Umum Pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) dilakukan Orde Baru secara periodic 5 tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
• Pelita I (1969-1974), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang, papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelita 1 menekankan pembangunan di bidang pertanian.
• Pelita II (1974-1979), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang, papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat.
• Pelita III (1979-1984), sasaran yang hendak dicapai adalah Trilogi Pembangunan.
• Pelita IV (1984-1989), sasaran yang hendak dicapai adalah di bidang pertanian tercapainya swasembada pangan.
• Pelita V (1989-1994), sasaran yang hendak dicapai adalah upaya peningktan semua segi kehidupan bangsa.
• Pelita VI (1994-1998), Pemerintah menitikberatkan pembangunan ekonomi yang berkaitam dengan industri dan pertanian, serta pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia sebagai pendukunggnya.
b. Dampak Revolusi Hijau dan Indiustrialisasi
Berikut upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk menggalakkan revolusi hijau antara lain :
a) Intensifikasi Pertanian.
b) Ekstensifikasi Pertanian.
c) Diversifikasi Pertanian.
d) Rehabilitasi Pertanian.
Berikut dampak positif revolusi hijau antara lain :
a) Memberikan lapangan kerja bagi para petani maupun buruh tani.
b) Kekurangan bahan pangan dapat teratasi.
c) Sektor pertanian mampu menjadi pilar penyangga Perekonomian Indonesia.
c. Dampak Kebijakan Ekonomi Orde Baru
Dampak Positif :
1) Pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
2) Swasembada beras.
3) Penurunan angka kemiskinan
2. Akhir Orde Baru
Krisis moneter yang melanda kawasan asia Tenggara menyebabkan ketidakstabilan Perekonomian Indonesia sejak pertengahan Juli 1997.
3. Era Reformasi
Reformasi merupakan suatu perubahan tatanan perikehidupan lama dengan tatanan perikehidupan yang baru dan secara hukum menuju kearah perbaikan. Reformasi tahun 1998 menuntut adanya pembaharuan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan hokum Masalah yang mendesak adalah upaya mengatasi kebutuhan pokok (sembako) dengan harga yang terjangkau masyarakat.
a. Masa Kepemimpinan B. J. Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Pada saat pemerintahan presiden B.J Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan perubahan-perubahan yang cukup berarti di bidang ekonomi. B. J. Habibie diangkat menjadi presiden menggantikan Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Tugasnya adalah Melanjutkan kebijakan yang telah dibuat oleh sebelumnya, kemudian Habibie membentuk kabinet yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan. Berikut upaya-upaya yang dilakukan Habibie di bidang ekonomi antara lain :
1) Merekapitulasi perbankan.
2) Merekonstruksi Perekonomian Indonesia.
3) Melikuidasi beberapa bank bermasalah.
4) Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga di bawah Rp. 10.000
5) Mengimplementasikan Reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.
Presiden B.J Habibie jatuh dari pemerintahannya karena melepaskan wilayah Timor-btimor dari Wilayah Indonesia.
b. Masa Kepemimpinan Abdurrahman Wahid (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun belum ada tindakan yang cukup berati untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Kepemimpinan Abdurraman Wahid berakhir karena pemerintahannya mengahadapi masalah-masalah yang kontroversial.
c. Masa Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004)
Masa kepemimpinan Megawati mengalami masalah-masalah yang mendesak yang harus diselesaikan yaitu pemulihan ekonomi dan penegakan hokum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasai persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
1) Melakukan pembayaran utang luar negeri.
2) Memelihara dan memantapkan stabilitas Negara.
3) Memantapkan ekonomi nasional.
4) Privatisasi BUMN.
5) Memperbaiki kinerja ekspor.
d. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004-2014)
Berikut kondisi dan kebijakan-kebijakan masa kepemimpinan SBY di bidang ekonomi antara lain :
1) Hingga Maret 2005 utang luar negeri U$$136.6 miliar dan masa penundaan utang paris club 3 sudah habis.
2) Seratus hari pertama lebih banyak bicara ekonomi makro dari pada secara spesifik program peningkatan ekspor.
3) Pada tanggal 19 Desember 2004 SBY menaikkan haraga “BBM Mewah”.
4) Melanjutkan pertumbuhan ekonomi Megawati, diperkirakan pertumbuhan ekonomi nya naik hingga 4,4-4,9% dan inflasi meningkat yakni 5,5%.
5) Menaikkan pendapat perkapita dengan mengandalkan pembangunan infrasruktur missal dengan mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor dengan janji akan memperbaiki iklim investasi.
e. Perkembangan Ekonomi di Tahun 2015
Awal tahun 2015 menjadi momentum tepat untuk memprediksi kondisi perekonomian Indonesia kedepan. Sebagai salah satu negara yang baru saja mengalami perombakan politik, serangkaian kebijakan baru tentunya akan mempengaruhi proyeksi ekonominya. Meskipun laju perekonomian di tahun lalu mengalami perlambatan, namun sejumlah ahli dan ekonom justru memprediksi bahwa di tahun 2015 perekonomian Indonesia akan mengalami peningkatan. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bahkan ditengah kondisi ekonomi internasional yang terbilang pesimis dalam beberapa tahun terakhir? Berikut ini sejumlah data yang dikumpulkan dari data-data Bank Indonesia dan sejumlah kalangan mengenai perkembangan ekonomi di tahun 2015.
Pada pertengahan Januari lalu, Bank Indonesia menetapkan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00% dan 5,75%. Kemudikan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4±1% pada 2015 dan 2016, dan mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.
Mengacu pada evaluasi terhadap perekonomian di tahun lalu, di tahun ini Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia semakin baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga, ditopang oleh perbaikan ekonomi global dan semakin kuatnya reformasi struktural dalam memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia tahun 2014 diprakirakan tumbuh sebesar 5,1%, melambat dibandingkan dengan 5,8% pada tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspor yang menurun akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global, serta adanya kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara keseluruhan menurun, ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan berlanjutnya pemulihan AS. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut didorong oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program penghematan anggaran.
Sementara itu, kegiatan investasi juga masih tumbuh terbatas. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi, yaitu tumbuh pada kisaran 5,4-5,8%. Berbeda dengan 2014, di samping tetap kuatnya konsumsi rumah tangga, tingginya pertumbuhan ekonomi di 2015 juga akan didukung oleh ekspansi konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur.
D. Faktor Penentu Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan peningkatan agregat atau pertumbuhan penawaran agregat. Dari sisi permintaan agregat, peningkatannya didalam ekonomi bisa terjadi karena PN, yang terdiri atas permintaan masyarakat (konsumen), perusahaan, pemerintah meningkat. Sisi permintaan agregat (penggunaan PDB) terdiri dari empat komponen yaitu konsumsi rumah tangga, investasi (termasuk perubahan stok), konsumsi atau pengeluaran pemerintah, ekspor netto (ekspor barang atau jasa minus impor barang atau jasa).
Dari sisi penawaran agregat, pertumbuhan output bisa disebabkan oleh peningkatan volume dari faktor – faktor produksi yang digunakan, seperti tenaga kerja, modal (kapital), tanah; faktor produksi terakhir ini khususnya penting bagi sektor pertanian, dan energi. Pertumbuhan output juga bisa didorong oleh peningkatan produktivias dari faktor - faktor tersebut.
Asian Countries' GDP's Growth Rate (% per year)
Resource: Asian Delvelopment Outlook 2007
Comparison Table: by Runckel & Associates
|
Country
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007*
|
2008*
|
|
Cambodia
|
6.2
|
8.6
|
10.0
|
13.4
|
10.4
|
9.5
|
9.0
|
|
China
|
9.1
|
10.0
|
10.1
|
10.4
|
10.7
|
10.0
|
9.8
|
|
Hong Kong
|
1.8
|
3.2
|
8.6
|
7.5
|
6.8
|
5.4
|
5.2
|
|
India
|
3.8
|
8.5
|
7.5
|
9.0
|
9.2
|
8.0
|
8.3
|
|
Indonesia
|
4.5
|
4.8
|
5.0
|
5.7
|
5.5
|
6.0
|
6.3
|
|
Japan
|
0.3
|
1.4
|
2.7
|
1.9
|
2.2
|
-
|
-
|
|
Korea
|
7.0
|
3.1
|
4.7
|
4.0
|
5.0
|
4.5
|
4.8
|
|
Laos
|
5.9
|
6.1
|
6.4
|
7.0
|
7.3
|
6.8
|
6.5
|
|
Malaysia
|
4.4
|
5.5
|
7.2
|
5.2
|
5.9
|
5.4
|
5.7
|
|
Philippines
|
4.4
|
4.9
|
6.2
|
5.0
|
5.4
|
5.4
|
5.7
|
|
Singapore
|
4.2
|
3.1
|
8.8
|
6.6
|
7.9
|
6.0
|
5.5
|
|
Thailand
|
5.3
|
7.1
|
6.3
|
4.5
|
5.0
|
4.0
|
5.0
|
|
Vietnam
|
7.1
|
7.3
|
7.8
|
8.4
|
8.2
|
8.3
|
8.5
|
Forecasted for 2007-2008
Faktor penentu pertumbuhan ekonomi:
a) Faktor internal yang mencakup factor ekonomi dan non ekonomi (politik, social dan keamanan).
Faktor ekonomi mencakup: pengendalian terhadap inflasi, cadangan devisa, rasio hutang Ln terhadap PDB, dan kondisi perbankan, serta kesiapan dunia usaha.
b) Faktor eksternal adalah faktor-faktor ekonomi yang mencakup perdagangan internasional dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Ekspor
Produk Dunia per Wilayah , 1948, 1953, 1963, 1973, 1983, 1993, 2003 and 2007
|
1948
|
1953
|
1963
|
1973
|
1983
|
1993
|
2003
|
2007
|
|
VOLUE
(Billion dollars)
|
|
World
|
59
|
84
|
157
|
579
|
1838
|
3675
|
7375
|
13619
|
|
SHARE
(percentage)
|
|
World
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
|
North
America
|
28.1
|
24.8
|
19.9
|
17.3
|
16.8
|
18
|
15.8
|
13.6
|
|
South
and Central America
|
11.3
|
9.7
|
6.4
|
4.3
|
4.4
|
3
|
3
|
3.7
|
|
Europe
|
35.1
|
39.4
|
47.8
|
50.9
|
43.5
|
45.4
|
45.9
|
42.4
|
|
Africa
|
7.3
|
6.5
|
5.7
|
4.8
|
4.5
|
2.5
|
2.4
|
3.1
|
|
Middle
East
|
2
|
2.7
|
3.2
|
4.1
|
6.8
|
3.5
|
4.1
|
5.6
|
|
Asia
|
14
|
13.4
|
12.5
|
14.9
|
19.1
|
26.1
|
26.2
|
27.9
|
|
USSR,
Former
|
2.2
|
3.5
|
4.6
|
3.7
|
5
|
-
|
-
|
-
|
Sumber: WTO,
2008
E. Perubahan Struktur Ekonomi
Perubahan struktur ekonomi, pada umumnya transformasi struktural. Yang didefinisikan sebagai suatu rangkain perubahan yang saling terkait satu sama lainnya dalam komposisi permintaan agregat, perdangan luar negeri (ekspor dan impor), penawaran agregat (produksi dan penggunaan faktor – faktor produksi yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Teori perubahan struktural menitikberatkan pada transformasi ekonomi yang dialami NB, yang semula bersifat subsisten menuju kesistem perekonomian yang lebih modern. Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam menganalisa perubahan struktur ekonomi, yaitu Arthur Lewis (Teori Migrasi) dan Horis Chenery (Teori transformasi Struktural).
Teori Arthur Lewis Membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di pedesaan dan perkotaan. Teori ini mengamsusikan perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama.
Teori Horis Chenery ;Proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat bila pergerseran pola permintaan domestik kearah output industri manufaktur diperkuat oleh perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor. Dalam modal transformasi struktural, relasi antara pertumbuhan output disektor industri manufaktur, pola perubahan permintaan domestik kearah output industri dan pola perubahan perdagangan luar negeri
Pembangunan ekonomi jangka panjang (PDB/PN) merubah struktur ekonomi dari pertanian menuju industry (sector non primer) terutama industry manufaktur dengan increasing return to scale. Semakin cepat pertumbuhan ekonomi, semakin meningkat pendapatan perkapita, semakin cepat perubahan struktur ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi/transformasi structural merupakan serangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam aggregate demand, perdagangan LN, dan aggregate supply untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Teori perubahan struktur ekonomi:
Teori Arthur Lewis (Teori migrasi)
Teori ini membahas pembangunan di pedesaan (perekonomian tradisional dengan pertanian sebagai sector utama) dan perkotaaan (perekonomian modern dengan industry sebagai sector utama).
Di pedesaan tingkat pertumbuhan penduduk sangat tinggi, shg kelebihan supply TK dan tingkat hidup yang subsistence, sehingga produk marjinalnya sama dengan nol dengan upah yang rendah. Produk marjinal =0 berarti fungsi produksi sector pertanian telah optimal.
Jika jumlah TK > dari titik optimal, maka produktivitas menurun dan upah menurun.
Dengan mengurangi jumlah TK yang terlalu banyak dibandingkan tanah dan capital tidak merubah jumlah outputnya.
Diperkotaan, sector industry kekurangan TK, sehingga produktivitas TK menjadi tinggi dan nilai produk marjinalnya positif yang menunjukkan fungsi produksinya belum mencapai titik optimal, sehingga upahnya juga tinggi.
Perbedaan upah ini menyebabkan migrasi/urbanisasi TK dari desa ke kota, sehingga upah TK meningkat dan akhirnya pendapatan Negara meningkat.
Pendapatan yang meningkat meningkatkan permintaan makanan (output meningkat) dan dalam jangka panjang pereonomian pedesaan tumbuh dan permintaan produk industry dan jasa meningkat yang menjadi motor utama pertumbuhan output dan diversifikasi produk non pertanian.
Teori Hollis Chenery (Teori transformasi structural/pattern of development)
Teori ini memfokuskan pada perubahan struktur ekonomi di LDCs yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sector industry sebagai penggerak utama pertumbuhan. Penelitian Chenery menunjukkan peningkatan pendapatan perkapita merubah:
pola konsumsi dari makanan dan kebutuhan pokok ke produk manufaktur dan jasa
Akumulasi capital secara fisik dan SDM
Perkambangan kota dan industry
Penurunan laju pertumbuhan penduduk
Ukuran keluarga yang kecil
Sector ekonomi didominasi oleh sector non primer terutama industry
Chenery menyatakan bahwa proses transformasi structural dapat dipercepat jika pergeseran pola permintaan domestic kearah produk manufaktur dan diperkuat dengan ekspor.
Yi = Di + (Xi-Mi) + ∑▒Yij
Dimana Yi= output bruto industry manufaktur
Di= permintaan domestic untuk konsumsi
X-M = perdagangan neto (ekspor-impor)
Yij= penggunaan produk oleh perusahaan menufaktur sebagai input
Daftar Pustaka
– Karl E. Case, Ray C Fair, Sharon Oster, Principles of Macroeconomics, Student Value Edition, 10th Edition, Prentice Hall, 2010, ch 6
– Sadono Sukirno, Pengantar Teori Ekonomi Makro, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, bab 2